Jumat, 02 November 2018

CERITA PARJA-KU PART 1 : Usaha Keras Tak Akan Mengkhianati



Berhasil menjadi bagian dari Parlemen Remaja 2018 merupakan sebuah kebanggaan tersendiri dan tentunya pengalaman yang tidak akan terlupakan. Of course, Parja adalah salah satu show time terbaik di masa remajaku ini~

Halo gaesss.. kembali lagi dengan Alvitra! Biasanya dipanggil Alvet sih sama temen-temen, aneh gitu ya, tapi gapapa. Kali ini aku mau berbagi cerita tentang pengalaman aku di event Parlemen Remaja 2018! Parlemen Remaja adalah event tahunan berskala nasional yang diselenggarakan oleh Sekretariat  Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI. Event ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang keparlemenan, termasuk di dalamnya ada politik dan demokrasi serta memberi kesempatan kepada siswa-siswi SMA terpilih se-Indonesia Raya untuk merasakan langsung menjadi anggota DPR itu seperti apa dengan segala kegiatannya.

Mengawali cerita, aku baru tau kalau ternyata Indonesia punya banyak sekali event nasional buat anak SMA/sederajat itu pas udah akhir kelas 2 SMA! IYA BARU TAU PAS UDAH MAU NAIK KELAS 3! Yah nyesel gitu kenapa gak dari awal SMA aku tau event-event kek gini?:''' Kembali lagi, event nasional itu buanyak banget mulai dari Belajar Bersama Maestro (BBM), Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI), FOR, Sehari Jadi Menteri yang diadakan Kementrian RI maupun swasta kayak Indonesia Initiative Leader Forum (IILF), Pengajar Jelajah Nusa (PJN), Ayo Bergerak Indonesia (ABI) serta banyak yang lainnya, termasuk Parlemen Remaja.

Waktu itu sekitar Mei 2018, aku dikasitau salah satu kakak kelasku kalau Kemendikbud ngadain event Belajar Bersama Maestro (BBM), fullyfunded lagi, kebetulan dia adalah salah satu yang lolos di bidang Seni Teater pada tahun 2015. Sedangkan aku sendiri, art basic ku lebih ke musik karena aku bisa main gitar, ukulele, dan biola serta pernah menjadi anggota Marching Band. Terus setelah aku dikasitau poster event nya, aku langsung cari tau tuh apa aja persyaratan dan cara mendaftarnya di web kemendikbud.

Poster Belajar Bersama Maestro 2018
 

Ternyata cara daftarnya agak rumit, tapi ya bisa lek dilakoni. Jadi aku harus bikin esai 300 kata tentang seni dan penguatan karakter, bikin video profil yang diupload di YouTube selama 2 menit, ngeupload CV dan segala sertifikat/piagam yang aku punya. Aku ngelakoni segala persyaratan itu pas lagi bulan puasa dan lagi UJIAN SEMESTER gaes! Bayangin otakku mecah antara belajar buat ujian dan mikirin esai serta konsep video. Sampai ada suatu hari pikiran itu membuat aku terbaring lemah tak berdaya akibat asam lambungku yang kumat:( 

Gak lama sih, kayaknya 3 harian aku sakit, setelahnya aku cepet-cepet take video dan upload ke YouTube dan nyelesain registrasi di web bbm.kemendikbud.com. Oh iya, aku milih maestro Irwansyah Harahap di Medan karena simple sih alasannya, aku belum pernah ke Medan. Hehe. Aku harap liburanku bisa diabisin di Medan. Mungkin buat kalian yang mau ikut BBM tahun depan (ya kan aku gabisa ikut lagi ya :'v) ini aku kasih link video profil aku. Mungkin bisa membantu.

Video Belajar Bersama Maestro 2018 - Alvitra Salmalia Syaharani

Oke that's it. Setelah aku daftar, aku digabungin grup Pejuang BBM 2018 di WhatsApp dan aku jadi banyak kenal sama anak-anak se-Indonesia yang mau berjuang dan menggunakan kreatifitasnya untuk event-event nasional macam BBM ini. Selang 2 pekan dari deadline pendaftaran, akhirnya pengumuman itu tiba. Aku inget waktu itu udah H-semingguan mau lebaran dan aku benar-benar minta sama Allah buat lolosin aku, biar nanti aku liburan sekolah 2 minggu nggak cuma di rumah tapi bisa ikut event BBM ini :v

Tapi..
Quotes-nya mantep uyy

Mungkin belum rejekinya. Aku nggak lolos. Abis sahur aku liat web dan bener-bener gak ada nama dan fotoku disana. Sedih pasti, karena aku berharap banget kan. Sampe seharian itu aku cuma tidur-tiduran di kamar sambil nonton anime Naruto. Dari 3000an pendaftar, aku gagal menjadi 1 dari 300 yang lolos BBM. So sad.

Sebelum daftar BBM, aku juga udah 2 kali daftar Pengajar Jelajah Nusa (PJN) oleh ultra.mym dan 2 kali pula aku gak lolos gaes :( Hm, terus sudah banyak kali aku ikut kompetisi menulis esai dan kebanyakan aku cuma lolos di tahap awal aja dan nggak keluar sebagai pemenang :( Terus setelah kelar BBM, aku nyoba buat daftar Indonesia Initiative Leader Forum (IILF) yang self-funded dan ternyata aku lolos tahap pertama, tapi tahap terakhir aku nggak lolos heumm :(

Ini pas annouce tahap 1

Waktu terus bergulir hingga aku sudah tenggelam dalam kesibukanku sebagai pelajar tahun akhir SMA, ditambah sistem full day school yang baru diberlakukan di sekolahku ngebuat aku udah gak ada minat lagi buat ikut seleksi event nasional, bahkan aku ngebatalin timku buat ikut seleksi Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) karena saking aku udah gak ada passion lagi buat berjuang di event nasional.
Padahal udah daftar.. :v

Kayak gimana ya.. yaudah sih. Mungkin aku emang gak ditakdirkan buat lolos event nasional di masa SMA ku ini, pikirku. Tapi aku terus berpikir positif, mungkin Allah gak ngasih aku lolos di event nasional, mungkin Allah mau ngasih aku lolos di SNMPTN 2019 ya gak :v Aamiin..


Nah, Agustus 2018, dari grup Pejuang BBM 2018 yang telah berubah nama menjadi Pejuang Event, aku mendapat kabar tentang event bergengsi yang namanya Parlemen Remaja. Sumpah pas aku liat posternya, langsung aku delete dari HPku, nggak tertarik sama sekali, waktu itu masih H-3 mingguan deadline pendaftaran. Dan ya, aku gak ada pikiran sama sekali buat ikut seleksi Parja itu.

Hari terus berganti, tiap hari aku kadang tetep buka grup Pejuang Event, ternyata banyak yang ikut seleksi Parja, dan aku tau kalau anak-anak yang menjadi anggota grup itu semuanya kompeten dan punya skill yang bagus. Tapi tetep aja aku nggak tertarik.

Sampai akhirnya H-7 deadline Parja. Tiba-tiba pas buka instagram, nemu postingan tentang parja dan ada ig resmi parja yaitu @parlemen_remaja. Ya gak tau kenapa aku follow aja, dan ngestalk ig itu. Terus aku baca alur pendaftaran dan sistem pemilihannya. Dan gilak banget Parja ini banyak peminatnya, dan setelah kutelusuri Parja ini salah satu event yang bergengsi banget dan semua anak SMA se-Indonesia Raya pada excited banget buat bisa lolos event ini. Ditambah lagi poin terpentingnya adalah : FULLY FUNDED! Lo gak perlu ngeluarin duit sepeser pun buat ikutan Parlemen Remaja gaes!
Poster Parlemen Remaja 2018

Jadi sistem pemilihan Parja tahun ini sama kayak kalo milih anggota DPR, lewat seleksi Daerah Pemilihan (Dapil) gitu dan aku masuk di Dapil Jawa Timur 3. Berbeda dari Parja tahun-tahun sebelumnya dimana sistem seleksi berdasarkan perwakilan 1 provinsi 1 orang dan untuk beberapa provinsi dengan penduduk lebih banyak seperti di Jawa di beri kursi 4 perwakilan. Dengan adanya sistem dapil ini, I think  persebarannya jauh lebih rata, mencangkup lebih banyak, dan emang sesuai dengan prosedur anggota DPR sebagai mana mestinya. Syaratnya cukup mudah sih, cuma nulis esai 5 halaman dan upload CV organisasi, prestasi akademik dan non-akademik.

Melihat persyaratan yang aku pikir aku bisa menyelesaikannya, jadilah di H-5 baru aku garap esainya. Kalian bisa baca esaiku yang judulnya "Sweet 17 KTP" di postingan blog sebelum ini. Dan esai ini, benar-benar terinspirasi dari kehidupan SMA-ku dimana aku sering denger temen-temen ku yang udah 17 terlambat untuk mendapatkan KTP. Yang bahkan buat dapetin KTP cepet harus lewat calo :( Meskipun diri ini saat bikin esai belum 17 tahun wkwk. Hal pertama yang aku lakuin adalah hunting bahan mulai dari apa itu KTP, prosesnya, berita-berita, dan masalah pembuatan KTP di daerahku sendiri.

Selama mengejar deadline, yang aku ga tau kenapa, seketika jadi on fire nulis esai. Tiap bangun tidur, abis makan, abis sholat, pas jalan pulang ke kosan, di bus, bahkan saat guru menjelaskan di depan pun, jariku terus bergerak di permukaan layar gawai untuk menuliskan esai. Gue bener-bener mendedikasikan perjuangan gue buat Parja, karena gue pikir "okay, Parja adalah event terakhir gue sebelum lulus". Gak peduli bakalan lolos atau nggak. Dan esai itu baru selesai di H-1 deadline. Terus malam sebelum hari H nya ku edit untuk penulisan-penulisan dan daftar pustakanya dibantu oleh pembina KIR sekolahku, Bu Reta. Terus juga sebenernya menulis esai di tengah kesibukan sekolah dan saat itu aku menjadi panitia seleksi salah satu lomba pada Pekan Olahraga dan Seni (POS) di sekolah itu nggak mudah gaes, ada hari dimana aku sangat pusing memikirkan semuanya dan rasanya ingin nyerah aja. Tapi ke-on-fire-an itu muncul lagi keesokannya :v

Ya udah deh, pas hari H deadline, 19 Agustus 2018, jam 9 pagi, aku mengumpulkan esai beserta data diri dan dokumen-dokumen yang diminta. Sengaja ngejar daftar pagi karena kalau malem takutnya webnya down gitu karena trafficnya pasti jadi rame banget. Dan oh iya, selain esai, poin penting yang harus kalian punya buat daftar Parja adalah pengalaman organisasi dan prestasi akademik maupun non-akademik ya! Bahkan ada kolom penilaian juga seberapa banyak kegiatan seminar atau sosialisasi yang kamu ikuti, yang kamu adakan, atau lebih bagus lagi kamu bisa menjadi narasumber, moderator, atau MC pada acara tersebut. It's big poin!

Fyi, di luar kegiatan sekolah, aku juga aktif di forum Generasi Berencana sebagai Pendidik Sebaya sekaligus Duta GenRe, organisasi relawan Bangun Bangsa Indonesia chapter Jatim, sama Yayasan Peduli Pemuda (Youthcare). Selain itu juga, karena aku bagian dari Duta Wisata jadi aku sedikit banyak sering menjadi MC/moderator dan pembicara/narasumber di beberapa kegiatan. Terus juga beberapa prestasi selama aku sekolah baik akademik dan dan non-akademik yang sebenernya aku pikir itu belum cukup, tapi yang penting 'ada' lah ya. :V

Dan ku sadari ternyata pengalaman seperti itu sangat memengaruhi penilaian di event Parlemen Remaja ini. Dengan penilaian 70% esai dan 30% CV, namaku bisa bertengger mewakili Dapil Jawa Timur 3 sebagai Duta Parlemen Remaja DPR RI 2018 :) Aku, berhasil menjadi bagian dari 124 Parlemen Remaja terpilih dari 3200an pendaftar.

Jeng Jeng Jeng.....
A.052
Alhamdulillah
Gewlaaa.. Ucapan syukur yang tiada tara selalu kuhaturkan hingga kini. Inget banget, pengumuman Parja itu 27 Agustus 2018 pukul 18:00 WIB hari itu aku kan panitia seleksi Duta Smasa, seharusnya aku yang ngumumin 10 besar Duta Smasa di instagram, eh aku malah kelupaan gara-gara nungguin pengumuman Parja ini sampai di chat para kontestan Duta Smasa wkwk XD Terus juga, yang bukain pengumuman ini tuh anak kosan, karena aku sebenernya belum siap menghadapi kenyataan kalo misalnya (lagi-lagi) namaku nggak ada di list peserta yang lolos :( But, ternyata namaku ada Alhamdulillah, dan aku langsung nangis guling-guling sambil nanyain ke anak kosan "eh ini beneran Alvitra lolos ya?!" berkali-kali. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah...

Malam itu, aku tidur dengan perasaan lega, dan syukur yang tiada tara. Tidak lupa aku juga ngabarin papa dan mama tentang kelolosanku ini, dan respon mereka adalah : "Kapan seleksinya? Kok mama papa gak tau". Surprise ma, pa :v Ya jadi, aku tuh kalo ikut lomba atau seleksi gapernah bilang-bilang, pernah deh pas lomba apa ya, Karya Tulis, dapet Juara 1, terus pulang-pulang bawa piala malah ditanyain itu pialanya siapa dapet darimana :'v Hikzz padahal itu aku yang dapetin ~

Ya.. dan begitulah, aku menyadari bahwa apapun yang kita lakukan, yang kita perjuangkan sekeras mungkin, nggak akan pernah sia-sia. Seberapa banyak kamu gagal, maka sebanyak itulah kamu harus bangkit dan berusaha lebih keras lagi. In Sha Allah setiap apa yang kita lakukan, pasti ada hadiah dan kejutan tersendiri yang sudah Allah siapkan buat kita. Selama itu baik, maka lakukanlah. Jangan pernah ragu dengan jalanmu sendiri, karena nggak semua orang bisa mengerti kamu dan kamu pun tidak selalu bisa mengerti orang lain.

Buat yang masih kelas 10 dan kelas 11, mulailah untuk ambis mengejar event-event nasional, entah itu akademik maupun non-akademik, sesuaikan dengan passion mu. Jangan batasi dirimu untuk mengejar ranking kelas atau juara pararel di sekolah saja, malu kan cuma jadi juara kandang. Buat yang udah kelas 12, maupun jenjang selanjutnya, justru lebih buanyak lagi kesempatan yang terbuka untuk berprestasi di kancah Nasional bahkan Internasional. Asalkan bisa percaya pada diri sendiri, pasti bisa! Meskipun, tidak semua yang kita lakukan akan dihargai, atau mendapatkan hasil yang diharapkan. Kembali lagi, semua sudah Allah atur spesial kita :) Yuk, tersenyum hari ini dan terus berjuang meraih mimpi!

Terima kasih sudah membaca!

Sabtu, 15 September 2018

Esai Parlemen Remaja 2018 : Tema "Peran Parlemen dalam Mewujudkan Pemanfaatan Teknologi Secara Cerdas"


Halo gaess... 
Kembali lagi dengan saya! Tiba-tiba aja malam ini, di H-2 event Parja aku pengin nge-share esai yang aku tulis hanya dalam 5 hari dan berhasil meloloskan namaku menjadi 1 dari 124 peserta lolos seleksi Parlemen Remaja 2018 :) Esai ini aku posting dengan harapan dapat menjadi inspirasi bagi the next PARJA tahun berikutnya ataupun dijadikan refrensi dalam penulisan esai kalian. Aku menyadari bahwa esaiku ini jauh dari kata sempurna dan sangat membutuhkan kritik dan saran kalian agar penulisan esaiku kedepannya menjadi lebih baik. Aku juga sangat berterimakasih kepada beberapa alumni PARJA yang udah ngeposting esai di blog mereka sehingga aku terinspirasi dan dapat menulis esai ini. Juga, terima kasih kepada Bu Puspita Margareta selaku pembina KIR yang telah menyempatkan waktunya untuk merevisi ejaan dalam penulisan esai ini. Tidak luput, kepada Papa dan Mama yang berkat didikan dari mereka aku berhasil menyelesaikan esai ini serta semua temen-temen yang telah mendukung hingga aku bisa berada di titik ini. I love u to the moon and back, guys! 
Aku Alvitra Salmalia Syaharani, SMAN 1 Situbondo dari Dapil Jawa Timur 3! 
Sweet 17 KTP : Sebuah Usaha Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Kehidupan Berparlemen
Oleh : Alvitra Salmalia Syaharani

Kartu Tanda Penduduk (KTP) adalah identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh instansi pelaksana yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kartu ini wajib dimiliki Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) yang memiliki Izin Tinggal Tetap (ITAP) yang sudah berumur 17 tahun atau sudah pernah kawin atau telah kawin (Wikipedia, 2018).
Bukan hal yang asing di kalangan remaja ketika berulangtahun di usia yang ke-17 akan mendapati ucapan semacam "Cie bakalan dapet KTP, nih!" atau "Cepetan ngantre ke kantor Capil,". Memang benar, KTP sebagai kartu identitas warga negara yang sah akan didapatkan ketika usia ke-17. Tidak heran jika momen mendapatkan KTP menjadi hal yang ditunggu-tunggu dan spesial ketika memasuki usia yang dianggap telah dewasa ini.
Dikutip dari tirto.id, dalam rapat kabinet terbatas tentang penataan administrasi kependudukan, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/4/2018), Presiden Indonesia, Joko Widodo, melontarkan sebuah pernyataan saat membuka acara. “Jangan sampai rakyat menunggu lama, mungkin dibuat Permendagri yang langsung membatasi waktu penyelesaian e-KTP berapa hari.” Permintaan Jokowi itu sebagai respons atas lambannya proses pembuatan e-KTP yang sering dikeluhkan warga. 
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, menjelaskan bahwa pembuatan e-KTP sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu satu jam dan paling lama satu hari. Bahkan beliau menindaklanjuti rapat tersebut dengan mengeluarkan Permendagri No. 19 Tahun 2018 Tentang Peningkatan Kualitas Layanan Administrasi Kependudukan. Salah satu poin dari regulasi yang efektif berlaku sejak Senin (9/4/2018) ini adalah proses penerbitan dokumen kependudukan harus dilakukan dalam rentang waktu 1 hingga 24 jam.Namun demikian, kata beliau, ketentuan mengenai batas waktu pengurusan dokumen kependudukan selama satu jam ini tidak berlaku jika ada gangguan listrik, antrean yang panjang, atau ada gangguan komputer. “Tapi prinsipnya satu jam selesai,” tutur beliau seperti dilansir laman resmi Kemendagri. 
“Ini tergantung semua pihak. Jangan salahkan pemerintah daerah, tapi juga masyarakat harus proaktif. Sekarang sudah 97,6 persen perekaman dari 184 juta sekian penduduk. Sisanya itu Pemda, Dukcapil proaktif tapi juga mohon masyarakat di perkotaan khususnya juga harus aktif merekam,” katanya berharap.
Ironis sekali jika remaja 17 tahun yang begitu semangat menanti momen mendapatkan e-KTP harus menunggu berhari-hari untuk hal tersebut. Kebanyakan fakta di lapangan, biasanya si pengaju permohonan pembuatan e-KTP hanya mendapatkan "KTP sementara" berupa selembar kertas dan harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapat e-KTP dalam wujud 'kartu'. Akibatnya, hal ini menurunkan rasa antusias warga dalam melengkapi surat atau dokumen penting kependudukan seperti e-KTP.
Teknologi informasi kini berkembang sangat pesat, sudah seharusnya segala sesuatu dapat dilakukan dengan mudah, cepat, efektif, dan efisien. Peran teknologi informasi sangat sentral dalam setiap jengkal kehidupan berbangsa dan bernegara. Kian hari perkembangan teknologi semakin tak terelakkan, termasuk dapat dimanfaatkan dalam implementasi kerja parlemen pada sistem pemerintahan.
Hidup selaras dengan teknologi informasi merupakan kewajiban kita sebagai insan yang dikaruniai akal pikiran. Oleh karena itu, upaya pemanfaatan teknologi informasi untuk efisiensi kerja khususnya dalam kehidupan berparlemen menjadi sebuah kewajiban bagi generasi saat ini agar menjadi generasi yang dapat memanfaatkan teknologi secara cerdas.
Menjadi tidak pantas apabila generasi saat ini dalam melakukan segala sesuatu menggunakan cara lama. Setiap berkembangnya teknologi informasi, maka setiap itu pulalah seharusnya terlahir cara-cara baru yang lebih praktis. Kehadiran teknologi informasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat dapat menjadi dampak positif apabila pemanfaatannya dilakukan dengan benar, begitu sebaliknya teknologi informasi menjadi ancaman apabila tidak dapat dipahami dan digunakan untuk hal negatif. 
Lamanya Pembuatan E-KTP di Kabupaten Situbondo
Dikutip dari suarajatimpost.com, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Situbondo menuturkan bahwa setiap kecamatan dijadwal 2 hari untuk melakukan perekaman maupun pencetakan. Itu semua dilakukan oleh Dispendukcapil Situbondo untuk mempermudah masyarakat. Kalaupun harus mengantri dan menunggu, hal itu karena terkendala oleh sinyal internet sehingga foto terkadang tidak muncul waktu pencetakan.
"Apakah tidak ada tindakan dari pemerintah daerah mengenai masalah ini? Membuat KTP di zaman canggih kok seperti ini, masih lama. Ini kan terkesan pelayanan tidak efektif. Saya tidak menuduh tapi bisa jadi hal seperti ini digunakan oleh oknum untuk melakukan pungli,” ungkap Sunaryo yang mengaku datang untuk mengurus e-KTP istrinya.
Menanggapi keluhan warga, awak media suarajatimpost.com langsung mengkonfirmasi Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Situbondo, Muhammad Sifa. Beliau mengatakan bahwa antrean panjang bisa saja terjadi karena masyarakat yang membuat e-KTP atau identitas lainnya bertambah setiap hari, belum lagi beberapa petugas sedang melakukan perekaman di kecamatan-kecamatan yang sudah dijadwalkan.
Pernyataan tersebut seakan ingin menutupi kenyataan bahwa proses pembuatan e-KTP belum sepenuhnya tersentuh teknologi informasi. Bisa dibilang, huruf ‘e’ di depan KTP hanyalah embel-embel yang berartikan 'elektronik' namun tanpa diikuti sistem yang berteknologi dalam proses produksinya. Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip pemanfaatan teknologi secara cerdas.
Jika hal ini terus berlanjut, antusias masyarakat untuk mengurus dokumen kependudukan seperti e-KTP akan menurun. Akibatnya, masyarakat akan dihadapkan kesulitan untuk menyelesaikan persyaratan fasilitas umum seperti BPJS atau membeli tiket perjalanan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pembuatan e-KTP memakan waktu lama :
  • ·     Perekaman data ke setiap kecamatan.Tentunya, tiap kabupaten terdiri atas kecamatan-kecamatan. Perekaman data yang dilakukan Dispendukcapil pastinya membutuhkan waktu lama untuk menjangkau keseluruhan data penduduk ke tiap-tiap kecamatan. Belum lagi, semua itu membutuhkan transportasi dan akomodasi yang tidak sedikit.
  • ·         Belum adanya basis data terpadu yang menghimpun data penduduk dari seluruh Indonesia. Selain perekaman data, hal yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa tidak ada penduduk yang memiliki data ganda. Misalnya, ketika seseorang mengajukan permohonan pembuatan KTP, harus dipastikan ia hanya menginput data di satu tempat saja.
  • ·         Masyarakat tidak langsung mengurus e-KTP ketika memasuki usia ke-17. Pemuda yang kurang sadar akan pentingnya tertib administrasi dan data, biasanya akan menunda-nunda waktu untuk mengurus e-KTP. Akibatnya, ketika terjadi suatu hal yang membutuhkan e-KTP seperti untuk memenuhi persyaratan fasilitas umum, barulah terburu-buru mengurus e-KTP. Apabila banyak pemuda yang seperti itu, maka akan terjadi pembuatan e-KTP yang serentak sehingga akan terjadi antrean dan tentunya membutuhkan waktu yang lebih lama.

E-KTP dan Teknologi Informasi
Beberapa faktor yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya merupakan penyebab lamanya proses pembuatan e-KTP. Saya memiliki gagasan agar pembuatan e-KTP menjadi lebih cepat, yaitu Sweet 17 KTP.
Sweet 17 KTP adalah sebuah aplikasi pelayanan umum pembuatan e-KTP secara daring (online). Caranya, kita hanya perlu mengunduh aplikasi tersebut melalui smartphone dan menginput Nomor Induk Kependudukan (NIK) serta tempat dan tanggal lahir untuk mendapatkan data diri yang telah terekam pada basis data kependudukan. Pada dasarnya, sejak kita terlahir sebagai seorang warga negara, orangtua pasti akan mengurus Akta Kelahiran dan akta tersebut menjadi bukti bahwa negara telah memiliki data kita sebagai salah satu warganya. Saya pikir, sebenarnya cukuplah sekali seumur hidup saja perekaman data itu dilakukan, yaitu ketika seseorang baru terlahir. Jadi, NIK yang terdapat pada akta kelahiran akan terus digunakan untuk membuat dokumen kependudukan lainnya. Data tersebut terekam dalam basis data kependudukan seluruh masyarakat Indonesia dan data tersebut dikelompokkan per kabupaten dan kecamatan. Sehingga, ketika berulangtahun yang ke-17, secara otomatis pada pukul 00.00, aplikasi tersebut akan mengirimkan ‘hadiah ulangtahun ke-17’ berupa format e-KTP yang akan didapatkan di kantor Dukcapil terdekat. Selanjutnya, format e-KTP yang telah dikirimkan tersebut hanya perlu dibawa ke kantor Dukcapil untuk dicetak dan dilengkapi dengan foto diri. Jadi, yang dilakukan ketika sampai di kantor Dukcapil hanyalah menunjukkan format e-KTP tersebut dan mengambil foto diri, lalu menunggu sebentar untuk mendapatkan e-KTP dalam wujud kartu.
Tentu saja aplikasi tersebut juga diisi dengan informasi mengenai pentingnya mengurus dokumen kependudukan ketika memasuki usia ke-17. Edukasi mengenai tata cara permohonan membuat e-KTP pun harus dipublikasikan di akun tersebut. Dengan begitu, pemuda akan lebih cepat mengerti dan informasi dari aplikasi akan tersebar dengan mudah sekaligus lebih luas sehingga aksi kampanye mengenai kesadaran akan tertib administrasi pun dapat terlaksana dan pembuatan e-KTP pun jadi lebih cepat.
Melalui aplikasi Sweet 17 KTP ini, diharapkan pemuda di Kabupaten Situbondo dan daerah lain tidak akan menunda waktu untuk mengurus e-KTP apalagi sudah semakin dimudahkan dengan adanya aplikasi layanan pembuatan e-KTP secara daring. Saya berharap Pemerintah Kabupaten Situbondo juga dapat merealisasikan kecanggihan teknologi informasi yang sudah ada dalam implementasi kerja, bukan hanya sekadar pencitraan nama baik di hadapan masyarakat.
Semoga cita-cita Menteri Dalam Negri, yaitu pengerjaan e-KTP hanya dalam 1 jam dan paling lama 24 jam dapat terwujud dengan adanya pemahaman teknologi informasi yang baik, sehingga tidak ada lagi masyarakat dan pemuda yang merasakan lamanya pembuatan e-KTP. Melalui esai yang saya tulis ini, sebagai pemuda, saya sungguh ingin memajukan bangsa Indonesia melalui pemanfaatan teknologi informasi secara cerdas dalam kehidupan berparlemen seperti yang sudah saya paparkan di atas.

DAFTAR PUSTAKA
  1.  Wikipedia. 2018. Kartu Tanda Penduduk, [online], (  https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kartu_Tanda_Penduduk diakses pada 12 Agustus 2018)
  2.       Bernie, Mohammad. 2018. Pembuatan e-KTP Cukup Satu Jam : Bagaimana Fakta di Lapangan?, [online], (https://amp.tirto.id//pembuatan-e-KTP-cukup-satu-jam-bagaimana-fakta-di-lapangan-cHyw  diakses pada 12 Agustus 2018)
  3. .      Fausiah, Ismi. 2016. Warga Situbondo Keluhkan Antrean Pembuatan e-KTP, [online], (http://m.suarajatimpost.com/read/2090/2/20160928/090828/warga-situbondo-keluhkan-antrean-pembuatan-ektp/  diakses pada 13 Agustus 2018)

Ya itu dia esaikuuu... Mohon kritik dan sarannya gaess~ Semoga mengispirasi dan doakan aku lancar dalam kegiatan Parja di Wisma Kopo, Cisarua, Bogor dan Gedung DPR RI, Jakarta! Postingan selanjutnya aku mau nyeritain cerita Parja ku ke kalian! Don't miss it guyss, thank u..

Jumat, 14 September 2018

Akhirnya Punya Blog!

Halo, temen-temen! Selamat malam~

Akhirnya punya blog! Ahahah, alhamdulillah setelah sekian tahun punya niat pengin bikin blog, akhirnya pekan lalu bisa direalisasikan yeay! Tapi ya gitu, segala kesibukan sebagai pelajar tahun akhir SMA membuat diriku ini baru bisa nyempetin nulis ehe. Oke sebagai postingan pertama di blog ini, kita kenalan dulu ya! 

Hmm, saya siapa? Hanya seorang gadis SMA bernama Alvitra yang sedikit mengutip dari kata fitrah yang berarti suci, berharap yang kulakukan selalu dalam lingkup kebaikan dan bermanfaat bagi orang sekitar. Salah satunya melalui blog ini, hampir 17 tahun hidup dan sedikit banyak sudah melewati beberapa hal membuatku berpikir, mengapa tidak membagikannya dengan orang lain? 

Aku tidak pandai menulis, tapi aku ingin sekali perjalanan hidupku dapat tersampaikan pada orang lain sekaligus bisa menginspirasi. Sebuah harapan kecil yang selalu berpendar dalam hati ini. Hmm, sebagai seorang pelajar, aku juga biasa-biasa saja, tidak pintar juga tidak bodoh. Tapi aku punya beberapa hal yang bisa dibanggakan di masa mudaku ini :) Hehe. 

Sejak kelas 1 SMA, aku adalah siswa yang biasa-biasa saja, dalam hal apapun. Nggak banyak dikenal, nggak hitz, nggak berprestasi, nggak pandai olahraga dan nggak punya hal yang bisa aku tunjukkan pada orang lain. Bisa dibilang saat itu aku adalah pelajar yang mengikuti arus, sekolah-belajar-pulang-mengerjakan tugas dan begitu seterusnya. Ngebosenin banget kan? Sampai akhirnya, di akhir bulan Mei 2017, aku menyadari beberapa hal yang membuatku berpikir bahwa masa SMA adalah show time! Dan show time itu cuma sekali seumur hidup, gak bakalan keulang lagi. Dan kelak, aku akan menceritakan show time ku ini pada suami, anak, dan cucuku nanti hwaaa >.<  mungkin masa depan masih terlihat jauh dan sangat panjang, namun sebenarnya masa depan itu sudah sebentar lagi... kan?

Setelah menyadari tentang show time tersebut, sebenernya aku agak nyesel kenapa gak dari awal SMA aku menyadari hal ini? Tapi ya it's okay lah, di hari-hari berikutnya aku mulai berubah! Aku mulai mencoba untuk lebih terbuka dengan teman-teman, aktif dalam organisasi, dan berkegiatan aktif. Soal belajar aku sih males banget, cuma bukan berarti aku gak belajar sama sekali loh ya. Aku juga usaha buat jadi lebih 'cewek' hehe, karena temen-temen sering bilang aku tomboi sih waktu itu :'v Ya pokoknya sedikit banyak, aku menyadari perlahan diriku mulai berubah setiap harinya. Dari perubahan itu, aku bisa ngerasain impact nya. Di awal tahun kedua SMA, aku mendapat banyak sekali kepercayaan mulai dari menjadi ketua umum ekstrakulikuler, menjadi Duta sekolah, menjadi bagian dari Duta Wisata di daerahku, sampai takdir membawaku menjadi Alvitra yang seperti sekarang ini. 

Waktu yang menyenangkan memang berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa kini sudah di tahun akhir SMA. Show time ku akan segera berakhir. Tapi bukan berarti show time yang telah kulalui akan berlalu begitu saja. Pernah aku dengar kalau menulis adalah cara yang tepat untuk mengabadikan sesuatu. Jadi, lewat blog aku ingin berbagi tentang show time di masa mudaku yang membara ini hehehe. Mohon bantuan dan dukungannya, semoga aku bisa konsisten untuk terus menulis tentang my show time!!

So, here you are! Selamat datang di blog cipratanhujan.blogspot.com , Alvitra's Journey :) 
Follow my ig @alvitravet_ to see my show time pic :v

instagram.com/alvitravet_