Cita-cita mereka
adalah harapan hidup dan nafas bagi Indonesia di kala Ibu Pertiwi kian menua.
Nusantara ku, nusantara mu.
Ya, mereka, anak-anak Indonesia di garis terdepan,
terluar, dan terpelosok dari kilauan Nusantara. Sebuah harapan yang kian
memanggil jiwa-jiwa muda yang peduli untuk meraih dan menggenggam erat
mimpi-mimpi mereka. Pengajar Jelajah Nusa bukanlah tentang kita, tapi tentang mereka…
April 2019, seusai bertarung dengan Ujian Nasional
SMA dan sedu-sedannya perhelatan jalur undangan, sebagian hatiku bertanya, mau
apa setelah ini? Ada banyak waktu ke depan yang masih kabur, akan untuk apa aku
gunakan? Belajar UTBK kian hari malah membuat sesak, berdebat tentang prodi
kian membuat muak. Sebenarnya aku mau kemana? Pertanyaan klise anak muda yang
usai SMA.
Honestly, aku udah tau program Pengajar Jelajah Nusa (PJN)
ini sejak angkatan pertama di tahun 2017. Saat itu masih kelas satu SMA, kali
pertama aku mendaftar PJN. Namun gagal. Aku sadar saat itu aku memang gak
pantes sih, malah masih belum ngerti sebenarnya PJN itu apa. Lalu, 2018 aku
daftar lagi. Kali ini penuh harap, semoga bisa berkesempatan melihat sisi
terluar Indonesia seperti kakak-kakak di angkatan sebelumnya. Namun alasan itu
juga terlalu sederhana untuk membuat namaku berada di 24 peserta yang lolos.
Tahun kemarin, sebenarnya hampir saja aku menyerah.
Menyerah pada keadaan dan alur hidupku yang ketika itu masih belum tau akan
dilanjutkan ke mana. Sampai akhirnya seseorang berkata padaku, “Mau bagaimanapun
kamu tetap akan terus hidup selama kamu punya impian dan ketika impian itu
terasa kabur bagimu, maka carilah,”. Jadi akhirnya aku daftar PJN lagi untuk
yang ketiga kalinya. Kali ini aku gak banyak harap, entah mau lolos atau tidak,
aku hanya ingin mencari kebermaknaan diriku bagi hidup ini.
Mei 2019, sambil belajar untuk ujian masuk perguruan
tinggi (yang sebenarnya juga udah ogah-ogahan), juga sambil mengikuti alur
seleksi PJN ; esai dan wawancara. Menulis esai PJN seperti merefleksikan diri,
mengingat lagi sudah berapa jauh langkah yang diambil? Sudah seberapa banyak
jarak dan kesulitan yang dihadapi? Dan apakah dari itu semua kita sudah cukup
berterima kasih pada diri kita sendiri? Ini tentang kebermaknaan hidup. Bahkan
dari alur seleksi ini saja sudah menerangi sebagian jiwaku yang saat itu terasa
hambar. Dari situ, aku percaya bahwa PJN bukan sebuah event ‘biasa’.
Semakin menulis semakin aku sadar, bahwa hidup ini
tidak pernah tunggal. Semuanya terhubung seperti benang. Hal yang sudah aku
lalui ternyata bisa ada karena orang lain, iya orang lain. Hal yang membuatku
melangkah ternyata juga karena keberadaan orang lain. Di titik ini aku mulai
berpikir, apakah aku juga memiliki makna untuk orang lain? Apakah aku bisa
membuat seseorang melakukan sesuatu dan mencapai tujuannya karena adanya
diriku? Dari sini, mataku terbuka, yang kucari bukanlah tentang aku; tapi
tentang mereka. Aku ingin berbagi, bukan
karena aku punya banyak, tetapi aku tau rasanya saat tidak punya apa-apa.
Hingga pengumuman itu datang, akhirnya namaku bisa
tertulis di laman PJN sebagai peserta yang lolos pada seleksi tahap akhir,
bersama 29 yang lain dari penjuru Indonesia. Grup WhatsApp mulai dibentuk, berkenalan dan saling sapa via balon
pesan. Latihan fisik dan segala persiapan dimulai sejak dua minggu sebelum
hari-H PJN. Mempersiapkan cinderamata untuk teman baru dan menyiapkan diri
untuk penjelajahan panjang..
Akhirnya hari itu tiba, 24 Juni 2019, dimulailah
program PJN yang diawali dengan masa pelatihan selama tiga hari di Wisma
Kinasih, Bogor. Jadwal kami cukup padat dari pagi hingga pagi lagi yang membuat
waktu tak terasa mengakrabkan kami. Obrolan-obrolan panjang di meja makan.
Ucapan semangat yang selalu membersamai setiap hela nafas lelah. Bahu yang siap
menyangga kepala-kepala yang tertunduk menahan kantuk. Tepukan hangat yang
membuat ramai, hingga rasanya tak ada lagi ruang sepi. Serta senyum dan ilmu
dari kakak fasilitator yang membekali kami.
![]() |
| Jatim Squad for PJN 2019 : (dari kiri) aku, kak Ailin, dan kak Haidir |
![]() |
| Pertama kali ketemu di bandara |
![]() |
| Kamar 01 Girls check : (dari kiri) kak Muti, kak Ailin, aku, kak Riana, Clarisa, Nanda, Dinda, Vincent |
Di penghujung pelatihan di hari pertama, kami
mendapat pengumuman penting yakni pembagian lokasi penempatan! Jujur aku ini
deg-degan banget, karena sebelumnya aku belum pernah keluar Jawa. Takut-takut
aku tidak adaptif ketika lokasinya sangat berbeda dengan Jawa.
Dan jeng jeng jeng …
![]() |
| Halmahera Selatan Squad ver 1.0 (dari kiri) : (atas) Luthfi, Windy, Aufa, kak Dwi, kak Ren, (bawah) Raziq, kak Safari, Zahra, aku, kak Azam (Fasil Sawanakar), kak Haidir, dan kak Kamri (Fasil Indong) |
![]() |
| PJN 2019 full team! |
Selama tiga hari pelatihan banyak dinamika yang
terjadi, kadang membuat kesal tapi sering kali membuat sayang. Pertukaran
pengajar yang tak disangka hingga pos pelatihan adaptasi budaya yang menguras
energi :v Sampai akhirnya, di hari terakhir masa pelatihan, kami dilantik
sebagai Pengajar Jelajah Nusa di depan bendera merah putih. Tangis, peluk, ucap
semangat, dan doa mengiring perpisahan kami menuju jalur penerbangan
masing-masing pada dini hari. Berharap bisa bertemu lagi setelah penjelajahan
yang mendewasakan.
![]() |
| Halsel we're coming!!! (Ada yang baru nih : Arid and Nanda) |
![]() |
| Paser, Kalimantan Timur Squad check (dari kiri) : (atas) kak Muti, Vincent, kak Sinta (Fasil), kak Vanessa, Clarisa, Zahra. (bawah) Dirga, Raziq, Zidan, kak Kamil, kak Fajri (Fasil), kak Firman uwu. |
Perjalanan pun
dimulai!!
Dari Bogor ke Depok, dari Depok ke Makassar, lanjut
ke Ternate, terus ke Labuha, dan naik bodi ke Desa Sawanakar. Total perjalanan
kurleb 12 jam dan disinkronkan dengan WIT jadi 14 jam.
| Bersama LO Halsel, kak Gritte dan kak Jojo yang motoin |
| Kedaton Kesultanan Ternate |
| Mengisi kegabutan akibat delay pesawat Ternate-Labuha |
Naik turun pesawat 3 kali, naik angkot, lalu naik
perahu mesin untuk sampai di Desa Sawanakar. Berangkat pukul 1 dini hari dari
Depok dan sampai di desa pukul 8 malam. Luar biasa capeknya. Semua keluh kesah
itu langsung sirna ketika merapat di dermaga, tanganku langsung digandeng oleh
tangan-tangan kecil serta sapaan malu-malu yang menuntun menuju rumah hostfam.
Sebuah sambutan yang sederhana; begitu hangat.
Hari pertama di desa, kami habiskan dengan malam
perkenalan dengan hostfam masing-masing. Aku dengan Windy di rumah Mamak Aisya,
kak Ren di rumah Mamak Tia, dan kak Safari dengan Luthfi di rumah Mamak Asma.
Malam itu, aku makan malam di rumah hostfam pertama kalinya, berbincang seputar
keadaan Jawa Timur saat ini (kebetulan mamak Aisya asal Tuban, Jatim) dan kami
disuguhi makan malam ikan asap dengan sambal bawang yang nikmaattt.
Mamak Aisya seorang perantau, asalnya dari Tuban,
Jawa Timur. Bertemu pertama kalinya dengan Papa Irsul di tanah Papua ketika
Papa Irsul melakukan rutinitas melaut jauh. Dari pertemuan itu, Papa Irsul
melamar dan menikahi Mamak Aisya di Tuban. Namun setelahnya, Mamak Aisya
memilih untuk mengikuti asal dari Papa Irsul yaitu di Labuha, Maluku Utara. Ketika
Papa Irsul dan Mama Aisya akhirnya memutuskan untuk memulai kehidupan secara
mandiri di Desa Sawanakar (setelah sebelumnya di Labuha), saat itu Desa
Sawanakar masih terdiri atas beberapa rumah saja dan belum ada akses listrik
sama sekali. Desa Sawanakar yang aku datangi sudah berkembang jauh lebih baik
dengan kurang lebih 30 kepala keluarga dan akses air bersih dan listrik selama
enam jam dalam sehari. Papa Irsul dan Mama Aisya diberkahi lima buah hati, yang
ketika aku datang, kelima-limanya sedang berada di rumah yaitu Nadia, Rizqi,
Dwin, Nadita, dan si kecil Azzam yang masih berusia dua tahun.
Malam itu, aku, Windy, Mama Aisya, dan Papa Irsul
mengobrol cukup banyak hingga tengah malam sebelum listrik padam. Kelima buah
hati papa dan mama sudah tidur terlelap setelah aku dan Windy datang dan
menyapa mereka. Jujur ketika pertama kali memulai percakapan aku agak kaku
dengan logat dan bahasa Papa Irsul yang sangat kental khas Indonesia Timur.
Beruntungnya ada Mama Aisya yang kelahiran tanah Jawa dapat mengerti
ketidakpahamanku terhadap beberapa kosa kata baru. Kami bercengkrama tentang
Pengajar Jelajah Nusa, asal daerahku di Jawa Timur, asal daerah Windy di Jambi,
cerita sejarah Desa Sawanakar hingga sekilas kronologi perjalanan rumah tangga
Papa Irsul dan Mama Aisya.
Salah satu hal yang membuatku terkagum adalah
prinsip mendidik anak yang dipegang teguh oleh para orang tua desa itu yakni
“Biarlah kami tidur beralaskan tanah, asalkan kami dapat melihat
bintang-bintang”. Artinya orang tua di sana tidak peduli jika harus hidup
kekurangan, asalkan putra-putri mereka bisa mendapatkan pendidikan dan menjadi
“bintang” bagi keluarga mereka. Dengan fasilitas sekolah yang hanya satu saja
di desa ini dan merupakan sekolah dasar, tidak mematahkan asa para orang tua
untuk menyekolahkan putra-putri mereka di seberang pulau sana seperti di
Labuha, Pulau Bajo, bahkan Ternate. Sama seperti anak pertama Papa Irsul dan
Mama Aisya, Nadia, yang kini mengenyam bangku SMP di pulau seberang.
Aku sangat bersyukur bisa disambut dan diterima
dengan sehangat ini, di sebuah keluarga di tempat jauh yang baru saja aku
datangi, yang di tengah segala keterbatasan masih sadar akan pentingnya
pendidikan untuk anak-anaknya. Malam itu, aku tidur di sana pertama kalinya.
Kamarnya sederhana, dengan kasur kapuk beralas karpet di lantai, jendela dengan
gorden sarung, dan sinar lilin seadanya. Listrik dan air hanya ada enam jam
dalam sehari. Sebab telah melalui perjalanan melelahkan malam itu, aku langsung
tertidur setelah bebersih diri ditemani suara ombak pulau Bacaan yang terdengar
jelas.
Esoknya, hari kedua, dikagetkan dengan adzan Subuh
jam lima pagi yang memekak telinga. Ternyata musholla desa tidak jauh dari sini.
Disusul dengan suara Mamak Aisya yang mengetuk pintu kamar dan mengingatkan
untuk sholat Subuh. Sial, mataku susaaah banget buat melek di pagi pertama aku
di desa, pukul 5 pagi WIT sama dengan pukul 3 pagi di tempatku berasal. Dan
sialnya lagi, Windy yang sekamar denganku mengalami hal serupa. Jadilah kita
molor sampai jam enam dan autopanic untuk melaksanakan ibadah sholat subuh :v
Pagi itu juga aku merasakan segarnya mandi di kamar
mandi terbuka yang persis di atas laut. Rasanya orang lain di kamar mandi
seberang bisa menyapaku. Dengan air yang harus ditampung dulu pada jam
tertentu, air dan kotoran yang langsung jatuh ke laut, langit yang seakan
menatap, dan suara debur ombak yang sahut-menyahut mengiringi. Pengalaman baru
yang membuatku sangat bersyukur dan berpikir ulang mengapa ketika di rumahku
sendiri aku sangat malas untuk mandi.
Sarapan bersama anak-anak mamak, ditemani teh manis,
dan ramainya suasana rumah untuk menyiapkan Riski berangkat ke SD. Papa sudah
berangkat pagi dini hari sekali untuk melaut. Sekolah Riski adalah satu-satunya
sekolah yang ada di desa ini sekaligus menjadi sekolah yang menjadi tujuanku
untuk mengajar sepekan. SDN 135 Halmahera Selatan. Jam 7 aku keluar rumah
menjemput kak Ren, Luthfi, dan Kak Safari untuk bersiap mengajar di sekolah.
![]() |
| Depan rumah mamak Aisya tepat ada balai desa |
![]() |
| Pagi pertama di desa |
Hari itu hari Jumat, harusnya hari itu pengambilan
raport dan libur setelahnya. Namun karena mengetahui akan kedatangan Pengajar
Jelajah Nusa, pengambilan raport ditunda dan anak-anak antusias untuk tetap
datang ke sekolah. Jadilah pagi itu pertama-tama kami bersilaturahmi ke rumah
bapak Kades, menyapa warga, ke sekolah lalu mediasi dengan kepala sekolah dan
bonding dengan anak-anak dari SDN 135 Halsel! Menyenangkan sekali karena semua
memberikan sambutan yang baik pada kami.
| Ini adik-adik yang sekelompok sama aku buat pensi. |
![]() |
| Trio anak SMA yang baru lulus dan digalauin SBMPTN : (kiri) Windy asal Jambi dan (kanan) Luthfi asal Bengkulu. Miss u so bad guys |
Rutinitas kami menjadi pengajar anak-anak SDN 135 Halsel sangat mengesankan. Setelah melakukan bonding dengan permainan di hari kedua, hari-hari selanjutnya kami isi dengan pengajaran yang menyenangkan. Hari ketiga kami bermain “sulap” dengan ilmu science sederhana yang mengundang gelak tawa. Hari keempat kami membagi menjadi tiga kelas pengajaran yaitu kelas Matematika untuk kelas 1-2 SD, kelas Bahasa Inggris untuk 3-6 SD, lalu di akhir waktu kami menjadikan satu kelas 1-6 SD (yang hanya terdiri dari 70an anak) untuk membuat prakarya dari tali warna warni. Hari-hari selanjutnya mengalir begitu saja, memperkenalkan Indonesia, lagu kebangsaan, kebhinekaan, Pancasila, hingga berbicara tentang cita-cita. Di hari libur, hari Minggu, semua anak-anak mengikuti lomba permainan Balap Karung dan Balap Katinting yang kami adakan bersama pemuda desa di lapangan.
| Science Fun Day |
| English Time! Spelling words and 3 magic words |
![]() |
| Bikin prakarya |
| SDN 135 Halmahera Selatan |
![]() |
| Pemandangan depan sekolah |
Pertengahan hari, setelah paginya bermain dan belajar bersama adik-adik, biasanya kami dipanggil oleh Mamak hostfam kami untuk membantu masak dan makan siang. Sorenya, di tiga hari pertama agenda kami adalah jelajah wisata! Hari kedua kami menumpang bodi ke Pulau Batura, pulau dengan pasir pantai putih bersih, deretan hutan bakau, dan sunset yang menghanyutkan sebagian jiwa. Salah satu panorama yang selalu ku rindu untuk bisa kembali ke sana. Hari ketiga kami lagi-lagi keluar pulau, kali ini lebih jauh, ke Pulau Pinangkara. Pulau dengan pantai berbatu dan jalan licin untuk sampai ke sisi seberangnya. Namun jangan salah, ketika sudah sampai di spot terbaik, kami seketika terpana oleh terumbu karang yang terlihat jelas sekali di antara air laut yang jernih. Sore di hari keempat hingga keenam kami habiskan di desa bersama anak-anak; mencari sabeta (ulat sagu) di hutan lalu membakar dan memakannya, mengajarkan keterampilan origami, mempersiapkan pentas seni untuk penampilan di malam perpisahan, atau sekedar duduk di dermaga rumah Mamak Tia dengan pemandangan sunset yang hangat sambil menyantap kudapan.
![]() |
| Senja yang hangat |
| sunset di dermaga desa Sawanakar |
![]() |
| Serius ini cuma di dermaga desa |
| Pulau Pinangkara |
![]() |
| Sampe lupa ngefoto terumbu karang saking bagusnya |
![]() |
| Kadang ikutan masak bareng mamak-mamak desa |
![]() |
| Bikin kue yasudah bareng mamak Asma |
Menjelang maghrib, kami berkumpul di musholla desa untuk mengajar mengaji. Kegiatan ini sebenarnya adalah kegiatan yang begitu saja kami lakukan setelah adik-adik bercerita bahwa beberapa bulan terakhir guru mengaji mereka sedang sakit sehingga tidak bisa mengajar. Kami tetap di musholla hingga selesai sholat Maghrib berjamaah dengan warga. Kembali ke rumah hostfam untuk istirahat sejenak, makan malam, dan mengobrol santai. Beberapa hari sebagian kami gunakan waktu malam untuk berkumpul bersama pemuda di balai desa yang kebetulan sedang libur sekolah, membentuk kepanitiaan dan merencanakan agenda gotong royong satu desa dan perlombaan permainan anak-anak di hari Minggu. Pemenangnya akan dianugrahi hadiah pada malam pentas seni. Begitulah waktu melekatkan kami dalam sekejap.
![]() |
| Mengaji |
![]() |
| Nongki di balai desa |
![]() |
| Selain bikin kegiatan lomba buat anak dan remaja, kami bersama pemuda Sawanakar juga bikin kegiatan senam dan gotong royong satu desa di hari Minggu |
Hari-hari terus bergulir dan mendewasakan kami. Kami berlima tim penempatan Desa Sawanakar ditambah Kak Azam selaku fasilitator, menghadapi berbagai dinamika setiap harinya. Di tengah sambutan yang begitu hangat sekali pun, ternyata ada saja hal-hal di luar perkiraan dan masalah yang tiba-tiba muncul. Pertengkaran pasti terjadi, tapi itu yang mendewasakan kami. Tidak butuh lama untuk bisa akrab kembali karena setiap malam sebelum kami kembali ke rumah hostfam masing-masing untuk beristirahat kami selalu berkumpul; melakukan refleksi atas apa yang terjadi hari ini, pencapaian yang lebih baik dari hari kemarin, dan berdiskusi untuk hari esok. Semua itu melegakan dan mengembalikan tawa sebelum kami mengakhiri hari.
Dan begitulah, ketika akhirnya waktu membawa kami di
hari keenam, hari terakhir yang malamnya diadakan pentas seni sekaligus
perpisahan dan esok di hari ketujuh akan datang bodi yang menjemput kami. Mengawali
hari lebih pagi dari biasanya, jam enam pagi aku dan Windy sudah siap dengan
rompi PJN. Kami berniat untuk mengambil foto sunrise di dermaga desa. Sambil
menyantap kue khas Maluku dan teh hangat bikinan Mamak, kami mengobrol sejenak,
tidak menyangka kalau besok kami sudah akan kembali. Mamak mengajak kami untuk
membuat kue sore harinya yang akan dibawakan pada kami sebagai bekal besok. Aku
terharu.
Pagi itu, sambil berjalan ke dermaga, ternyata
penduduk desa sudah bangun. Berbagai aktivitas terlihat mulai dari ibu-ibu yang
menggendong anaknya, bapak-bapak yang menyeruput kopi di teras, dan beberapa
remaja yang melakukan peregangan tubuh. Semuanya menyapa, membuat energi pagi
itu menjadi positif. Aku jadi nyesel, kenapa baru di hari keenam aku bisa
bangun pagi dan menyaksikan kekhidmatan ini. Sampai di dermaga, aku dan Windy
mengambil beberapa foto bersama mentari terbit, mentari yang lebih cepat dua
jam daripada mentari di kota ku. Sekilas terlintas, apakah papa mama di rumah sudah
bangun ya? Sepekan tanpa sinyal yang artinya tanpa komunikasi apa pun dengan
orang tua ku ternyata juga membuat rindu. Beberapa detik membayangkan segala
keruwetan di kota asal, rutinitas hidup, sekolah, keluarga, dan teman-teman. Ah, besok-besok aku pasti bisa menghadapinya
dengan lebih baik lagi.
Sampai pukul delapan aku dan Windy menghabiskan
waktu duduk di pinggiran dermaga, kami tidak bicara, sibuk dengan pemikiran
masing-masing. Udara pagi begitu lembut dengan sedikit bau air laut dan ikan asin
yang dijemur. Sejauh mata memandang hanya ada lautan dan samar-samar pantai di
pulau seberang. Tertunduk sedikit ke bawah dermaga, juga ada pemandangan
menakjubkan dari terumbu karang dan ikan nemo yang terpapar mentari pagi. Kami
menghela nafas dan memotret sebanyak-banyaknya panorama pagi di Desa Sawanakar
dengan memori otak kami, sebelum esok kembali. Syukur tiada tara kepada Tuhan
yang memberi kesempatan dan berjanji pada diri sendiri untuk berbuat lebih
banyak lagi setelah ini. Tanpa sadar, kami bertumbuh di desa ini.
![]() |
| santuy di ujung dermaga |
Pagi sampai siang hari itu, kami melakukan semacam
gladi resik untuk penampilan malam nanti. Beberapa kali adik-adik
bertanya-tanya, “Besok kakak sudah kembali kah?”. Aku hanya tersenyum, tidak
mau meredupkan semangat adik-adik untuk tampil di balai desa. Setelah dari
sekolah, kami berlima berkumpul dengan pemuda untuk menyiapkan dekorasi,
hadiah, berlatih pembawa acara, dan pidato terima kasih. Sambil menggambar dan
mengguntingi kertas, kami banyak bercerita. Ternyata sama saja, remaja-remaja
di Desa Sawanakar juga punya cerita unik tentang pergaulan dan pergalauannya.
Masa muda memang se-greget itu.
Menjelang sore, hujan turun deras, padahal siang
sangat terik. Aku dan Windy buru-buru pamit untuk kembali ke rumah Mamak Aisya
karena ada janji membuat kue bersama. Hingga maghrib akan tiba dan kami
menyelesaikan kegiatan memasak, hujan belum juga reda. Aku memutuskan untuk
bersantai sejenak di kamar, berpikir mungkin kegiatan mengaji akan libur dulu
karena hujan.
Baru saja aku dan Windy menuju pintu kamar, ada
suara empat orang anak berteriak di depan rumah. “Kaka ayo belajar mengaji! Sa
su tunggu kakak sejak tadi”. Aku dan Windy melongo tidak percaya. Kalau di kota
kami, sekolah saja bisa libur (alias meliburkan diri) karena hujan. Kalau di
sini ternyata beda ceritanya, ah, lihat, keempat anak itu juga membawakan
payung untuk kami. Akhirnya kami segera bersiap dan berangkat ke musholla di
tengah hujan deras. Di sana, sudah ada kak Safari yang mungkin lebih dulu
“dijemput”.
Selepas Isya, malam pentas seni dimulai. Beruntung
hujan sudah reda, kami, warga, adik-adik semua berkumpul di desa. Tak sabar
menyaksikan penampilan dan mengenang sedalam-dalamnya momen ini. Malam itu berjalan dengan khidmat, di akhir semuaya
tak kuasa menahan air mata, terutama adik-adik SDN 135 Halmahera Selatan yang
begitu dekat dengan kami. Tidak menunggu akhir acara, bahkan di tengah
penampilan mereka tak kuasa menahannya. Tapi semua itu sangat indah untuk
dikenang hingga waktu-waktu selanjutnya..
Pagi hari ketujuh mau tidak mau akhirnya datang
juga, aku dan Windy juga bangun pagi-pagi, berkemas barang dan merapikan kamar
yang sudah menjadi tempat kami bermalam akhir-akhir ini. Rencananya bodi akan
datang menjemput jam 8 pagi, maka kami memulai hari sepagi mungkin agar bisa
berpamitan ke warga dan juga adik-adik. Sebelum keluar untuk berkumpul dengan
Luthfi, kak Ren, dan kak Safari, aku dan Windy sengaja duduk berlama-lama di
ruang tamu bersama mamak dan anak-anaknya. Papa Irsul tentu sudah pergi melaut
tengah malam tadi. Kami mengucapkan banyak terima kasih dan maaf serta
memberikan sedikit cinderamata yang kami bawa dari kota asal, berharap bisa
dikenang meski hanya sekejap sekali berada di sini.
Pukul tujuh, kami berkumpul, berencana untuk
berpamitan ke satu-persatu rumah hostfam. Namun kejutan, kak Azam membawa kabar
kalau bodi baru akan menjemput jam sebelas siang dan anak-anak telah berkumpul
di SD untuk diajar kakak-kakak pengajar terakhir kalinya. Seketika kami
langsung berlarian ke SD. Padahal langit saat itu mendung dan jalanan licin
karena gerimis, seakan ikut sedih kalau hari ini adalah hari kami untuk pulang.
Adik-adik memakai seragam putih-merah khas SD, mereka
begitu riang ketika kami datang, dan minta diajarkan lagu-lagu nasional dan
membaca peta. Hari itu kepala sekolah dan dua guru pengajar juga hadir. Kak
Safari dan Kak Ren berinisiatif berbagi ilmu cara membuat power point untuk
pengajaran menggunakan laptop sekolah. Hari itu dingin karena mentari tidak
terik, tapi kami lega setidaknya di akhir waktu kami tetap bisa merasakan
energi besar dari adik-adik.
Begitu cepat hingga akhirnya waktu sudah mendekati
pukul sebelas, kelas ditutup, semua murid bersalaman pada kami. Membuat syahdu
suasana. Bapak kepala sekolah dan guru berterima kasih dan memberi cinderamata
pada kami. Harusnya kami yang banyak berterima kasih atas kesempatan berharga
ini. Sisa waktu yang kami punya di desa, kami gunakan untuk berpamitan ke rumah
hostfam satu-persatu sekaligus mengambil tas dan barang bawaan lalu langsung
menuju dermaga.
![]() |
| Mamak Asma, roti bikinan beliau enak pol. Rumah mamak Asma sering kita bikin tempat evaluasi malem. |
![]() |
| Mamak Tia. Di rumah ini jadi basecamp trio anak SMA karena banyak jajannya :v |
![]() |
| Mamak Aisya, Luthfi seneng banget kalo diajakin aku sama Windy makan di sini apalagi makan sotong :v Sayang banget, pas mau pulang papa Irsul masih melaut. |
Dan begitulah, sampai bodi benar-benar menepi di
dermaga desa. Pemuda, adik-adik, papa-mamak, dan warga desa melambai, mengucap
terima kasih dan sampai jumpa hingga ujung dermaga makin kecil dan tidak
terlihat lagi. Rasanya seperti meninggalkan rumah. Ingin kembali suatu saat
nanti. Kami berlayar menuju Desa Indong, cukup jauh, butuh satu jam untuk
sampai dan berjumpa dengan lima kawan kami lainnya; Aufa, Arid, Nanda, kak
Haidir, kak Dwi, dan kak Kamri. Dua jam berikutnya lagi-lagi kami mengarungi
lautan Bacaan hingga sampai di pelabuhan Labuha.
Apakah sudah selesai? Belum. Kami masih ada waktu 24
jam lagi yang akan kami isi dengan beberapa kegiatan di Labuha. Kami menginap
semalam. Hari itu kami melakukan audiensi ke Kepala Dinas Pendidikan Halmahera
Selatan, berkunjung ke rumah dinas Bupati Halmahera Selatan, mampir ke benteng
Barnaveld, dan menikmati kuliner di Labuha. Suasana makin ramai karena kini
kami ada berdua belas.
Hari berganti, pagi-pagi sekali pukul lima kami
sudah berkemas dan bersiap di angkot. Pukul enam, menuju Bandara Oesman Sodiq
Labuha dan pukul tujuh pesawat take-off menuju Bandara Sam Ratulangi Manado.
Dari sana, kami melanjutkan penerbangan ke Bandara Soekarno Hatta, dan tiba di
Tangerang pukul 12 siang WIB. Di jemput oleh bus yang ternyata teman-teman kami
dari Kaltim dan Sulsel sudah tiba lebih dulu. Kami langsung ramai berpelukan
dan bercerita padahal semuanya terlihat kusam dan pastinya belum mandi.
Beberapa ada yang tampak menggelap (termasuk aku), makin berisi, dan tentunya
makin berseri setelah penjelajahan yang mendewasakan.
![]() |
| Ini hari ke berapa gak mandi dan gak keramas gais? :v |
Apakah cerita sudah selesai? Ternyata juga belum,
sedikit lagi. Kami bertiga puluh menjalani serangkaian Orientasi Pasca
Penempatan (OPP) di Hotel Swiss Jakarta Barat
(aku agak lupa sih, cmiiw ya). Rasanya berkumpul lagi dengan teman-teman
setelah penjelajahan ternyata luar biasa. Penjelajahan itu memang mendewasakan,
berada di tempat baru dengan budaya yang berbeda membuat kami menjadi manusia
yang lebih menghargai dan bijak. Meskipun tentunya belum sebijak dan sedewasa
itu (karena penjelajahan dalam hidup kami masing-masing akan terus berlanjut). Beberapa
pola bicara, tingkah laku, dan sikap sangat terlihat perbedaannya dibanding
saat masa training. Jangan ditanya lagi bagaimana kebersamaan kami begitu
terasa di empat hari terakhir sebelum kami kembali pada kehidupan di kota
masing-masing.
OPP ngapain aja? OPP ibaratnya
adalah sebuah koma, perhentian sejenak. Henti untuk beristirahat, mengingat,
berbagi cerita, dan merefleksikan pengalaman yang telah dilalui sepekan
terakhir. Mementaskan penampilan yang menunjukkan segenap perasaan dan cerita
di penempatan, melakukan presentasi, dan refleksi personal dengan kakak-kakak
fasil dari Indonesia Mengajar. Momen refleksi personal seperti cermin, yang
menampar diri sendiri, dan memberikan energi besar untuk bisa lebih baik di
hari-hari berikutnya. Kami juga melakukan kunjungan ke kantor Indonesia
Mengajar, di sana kami menemui lebih banyak lagi kakak-kakak yang sudah
mengabdikan masa mudanya selama setahun di penempatan. Kami yang hanya sepekan
tentu tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Lucunya, kami juga bertemu dengan
kakak yang menyeleksi esai dan mewawancara kami. Ketika berkenalan, kakaknya
langsung menebak kami sesuai esai dan wawancara yang sudah kami lakukan sebelum
bergabung dengan PJN.
![]() |
| masih kucel belum skinkeran |
![]() |
| Mustika Dewi |
Banyak benih-benih cinta yang
tumbuh, ikatan persaudaraan yang kian erat, dan semangat untuk berkolaborasi
berbuat lebih banyak lagi setelah ini. OPP ditutup dengan derai air mata, bukan
atas kesedihan karena berpisah, namun haru yang mendalam. Bangga kepada
teman-teman, kakak-kakak, dan diri ini atas pengalaman yang luar biasa. Malam
Gala Dinner pun begitu, cerita-cerita kami menjadi sebuah sajian menarik yang
akan selalu kami ingat. Besoknya, kami saling melambai tangan menuju terminal
penerbangan masing-masing. Bersiap untuk menghadapi rutinitas kehidupan seperti
sedia kala.
![]() |
| Gala dinner |
![]() |
| Bersama kak Azam yang sangat sabar menghadapi dan membimbing kami berlima selama training dan penempatan. Sehat selalu ya kak! |
![]() |
| Jatim Squad pulang duluuuu.. kak Ailin ke Sidoarja, kak Haidir ke Malang, aku ke Situbondo, dan kak Muti ke Tuban |
Apakah sudah selesai? Mungkin sudah selesai. PJN
sudah selesai. Tapi persaudaraan ini tetap berlanjut, bahkan hingga hari ini
aku menulis, tepat setahun setelah PJN 2019. Hari ini 6 Juli 2020. 36 peserta
PJN 2020 sudah terpilih, selamat! Bagaimanapun penjelajahan yang akan kalian
lalui, di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, aku yakin kalian akan
bertumbuh dengan indah sekali. Ah iya, setahun ini juga kami, PJN 2019, tetap
menjaga ikatan yang sudah tercipta bahkan berkolaborasi di beberapa kesempatan.
Rasanya menyenangkan mengikuti perkembangan masing-masing individu meski hanya
melalui sosial media dan balon pesan. Terima kasih banyak atas kesempatan ini,
bisa berada dan bersama kalian adalah bekal berharga untuk ku.
“…layaknya benih yang tersebar di tanah yang subur,
tumbuh dan berkembanglah di Tanah Saruma, Halmahera Selatan.”
![]() |
| Ini pesan yang didapat ketika pembagian penempatan. Saat itu aku belum ngerti, apa maksudnya? |
Dan akhirnya aku mengerti serta menemukan
makna tumbuh dan menjadi dewasa. Aku menemukan aku dan impianku. Juga menemukan
tentang mereka. Desa Sawanakar sudah punya tempat tersendiri di hati. Untuk
setiap pulau yang kami datangi. Untuk setiap lautan yang dilewati. Untuk setiap
doa yang terpanjat ketika akan naik bodi. Untuk setiap teriakan semangat dan
tepukan yang membersamai. Terima kasih.
Buat kamu yang udah baca, ada bonus Tips Menulis Esai
Seleksi PJN dari Alumni PJN 2019. Ini linknya : bit.ly/TipsPJN2019
Semoga bermanfaat ya!










































